Kamis, 02 Agustus 2012

Simbiosis dalam berpacaran


Simbiosis yang terjadi pada makhluk hidup dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :

Simbiosis mutualisme = hubungan timbal balik yang saling menguntunngkan
Simbiosis komensalisme = hubungan timbal balik dimana menguntungkan salah satu pihak tetapi pihak yang lain tidak merasa dirugikan.
Simbiosis parasitisme = hubungan timbal balik yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak yang lain.

Berikut  ini saya akan mencoba untuk membahas simbiosis-simbiosis ini dalam hubungan berpacaran masa kini. cekedot!

1.      Simbiosis mutualisme (baca : simbiosis dreamisme)
Idealnya hubungan berpacaran memang harus menjalankan simbiosis yang seperti ini. Dimana hubungan ini didasari atas cinta kasih yang tulus tanpa harap balasan tetapi mendapatkan balasan. Rasio perasaan cinta antara pria dan wanita pada simbiosis ini sangatlah seimbang.
Menjalankan simbiosis seperti ini bukannya tanpa masalah (kesedihan), Cuma karena masalah (kesedihan) pada simbiosis seperti ini sifatnya sangat minoritas dibandingkan keuntungan (kebahagian) yang bersifat mayoritas sehingga nilai kesedihan yang mendekati nol itu dapat diabaikan keberadaannya.
Pasangan yang menjalankan simbiosis seperti ini biasanya berawal, berjalan, dan berakhir happy ending seperti cerita-cerita dongeng.
Kenapa simbiosis mutualisme dalam hubungan berpacaran saya sebut sebagai simbiosis dreamisme?
Karena pada kehidupan nyata untuk mendapatkan hubungan yang menjalankan simbiosis seperti ini, sama saja mengharapkan mimpi menjadi kenyataan dan dari sekian banyak mimpi di dunia ini cuma beberapa yang menjadi kenyataan seperti halnya simbiosis ini semua pasangan ingin menjalaninya tapi cuma beberapa yang berhasil.
Jangankan untuk menjalani simbiosis seperti ini untuk menemukan orang yang menjalani simbiosis seperti ini saja seperti mencari jerami di tumpukan jarum, kalaupun berhasil ya dengan susah payah (tangan luka-luka).

2.      Simbiosis komensalisme (baca : simbiosis fungsikanisme)
Dalam hubungan berpacaran simbiosis seperti ini lumayan sering ditemukan. Simbiosis seperti ini terjadi karena rasio rasa cinta antara pria dan wanita yang tidak seimbang namun masih dalam batas yang dapat ditolerir.
Dan biasanya dalam hal ini kaum hawa lebih sering menjadi korban, mengapa sampai kaum hawa yang sering menjadi korban?? Seperti yang kita tahu kalau wanita biasanya mempunyai rasa cinta yang besar dan dalam sehingga seringkali biarpun pasangannya menarik keuntungan berlebih dari dirinya layaknya lintah darat, wanita akan tetap menganggap hal itu masih dalam batas kewajaran.
Salah satu contoh penarikan keuntungan berlebih dari wanita oleh pria yaitu saat pria menggunakan sifat keibuan seorang wanita untuk meminta “disusui”, tapi karena sifat keibuan yang sudah menjadi sifat almiah dari wanita (di dukung oleh sifat makhluk hidup yang menerima dan menanggapi rangsangan) maka wanitapun hanya akan mengikuti keinginan pria itu tanpa merasa dirugikan.
Simbiosis seperti ini dalam hubungan berpacaran saya sebut simbiosis fungsikanisme, sebab seperti yang sudah dibahas, simbiosis ini menunjukan adanya pihak yang mengfungsikan (memanfaatkan) oleh pihak lain.
Hubungan yang menganut simbiosis seperti ini dapat bertahan jika adanya kesadaran untuk menghilangkan perbedaan rasio cinta kasih diantara yang empunya hubungan, meskipun perbedaan rasio tersebut masih dapat ditolerir. Jika tidak, hubungan ini bisa saja berubah menjadi simbiosis parasitisme yang akan dibahas setelah ini.

3.      Simbiosis parasitisme (baca : simbiosis unfairisme)
Hubungan yang mengalami simbiosis seperti ini biasanya diakibatkan karena keberlanjutan dari simbiosis fungsikanisme atau karena memang dari awal hubungan ini dibangun dengan didasari adanya modus tersembunyi yang bersifat buruk dari salah satu pihak (biasanya pria).
Dan seperti simbiosis fungsikanisme, yang sering menjadi korban dari simbiosis yang tidak sehat ini yaitu wanita berkat kepolosannya dalam mencinta. Dan tokoh antagonisnya yaitu pria dengan segala tipu muslihat yang seakan diperuntuhkan untuk wanita sebagai wujud balas dendam kepada hawa karena telah mengajak adam jatuh ke dalam dosa.
Entah wanita sadar atau tidak tetapi tahap PDKT merupakan tahap dimana cinta seorang pria berada pada tingkatan paling tinggi khususnya untuk pria penganut simbiosis parasitisme ini.
Pria seperti ini akan punya prinsip “sedikit memberi tetapi harus banyak menerima”.
Sedikit pemberiannyapun hanya sebagai “umpan tarik” untuk mendapatkan jiwa dan raga sang wanita (jiwa dalam bentuk cinta,kasih sayang, pengertian, perhatian, dsb sedangkan raga ya dari ujung kaki ke ujung kepala).
Setelah itu pria akan mengolah semua pendapatannya itu menjadi kesenangan, kepuasan dan kebanggaan lalu mengembalikan limbah olahan berupa kesedihan mendalam dan keterpurukkan kepada sang wanita untuk ditanggung sendiri.
Inilah mengapa saya menyebut simbiosis ini dengan sebutan simbiosis unfairisme karena memang disini tidak ada keadilan sama sekali untuk wanita.
Hubungan yang mengalami simbiosis seperti ini hampir dipastikan tidak dapat dipertahankan kalaupun bisa dipertahankan pasti sepanjang perjalanannya dibasahi oleh air mata sang wanita.
Ada sedikit kemungkinan untuk dipertahankan yaitu dengan insyafnya sang pria dipadukan dengan kesabaran tingkat dewi kesabaran dari sang wanita.


Sebagai penutup cuma mau bilang, bermimpilah untuk menjalani simbiosis dreamisme, bijaksanalah untuk menjalani simbiosis fungsikanisme, serta bersabar, berharap, beriman, bertakwa, berdoa, lalu menyerahlah dalam menjalani simbiosis unfairisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar